Langsung ke konten utama

Nagari Sunur yang Pernah dicatat oleh Francois Valentijn

suryadi-jalan-kuiliang-bilang-nagari-nagari-sunur-yang-pernah-dicatat-oleh-francois-valentijnNagari Sunur atau Sunua (45 km. Di barat laut Padang, 8 km di selatan Pariaman) sekarang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Korong/dusun-dusunnya adalah: Kampung Kandang-Koto Gadis, Koto Rajo-Koto Marapak-Kampung Aur, Kampung Tangah, Taluak Nibung, Tingkalak, Kampung Jambak, Pasar Baru, Pintir Kayu, Padang Kalam, Olo, Pakoktan, Kabun, Pautan Kabau, dan Kampung Lintang. Dulu korong Pasir Sunur yang terletak di tepi Samudera Indonesia juga termasuk wilayah Nagari Sunur, tapi sekarang masuk wilayah Kecamatan Pariaman Selatan.
Batas sebelah barat nagari Sunur adalah Samudera Indonesia. Ombaknya besar, sehingga menjadi tamsilan bagi tukang indang grup Toboh Sikaladi (Tanama Record 1997, 4 kaset) dalam menggambarkan berpisahnya dua kekasih karena rayuan (gaduah) orang ketiga yang lebih kuat/kaya:Kampuang Tangah jo Surau Kuduang / Barampia tapi ndak babaua / Lah carai biduak jo pandayuang /Ulah dek lelo ombak Sunua. Mungkin oleh sebab itu pula nagari ini, tentu juga karena alasan-alasan lain, disebut-sebut oleh Francois Valentijn, penjelajah Belanda yang kenamaan itu, dalam bukunyaOld and Nieuw Oost-Indien yang terkenal itu (5 jilid) (1724-1725).

Catatan-catatan orang Belanda pada zaman VOC dan sesudahnya menunjukkan bahwa Sunur penting karena produksi garamnya. Tampaknya nagari ini sudah lama didatangi oleh orang-orang dari darekyang datang ke kawasan pantai untuk membeli garam. Ketika Belanda menerapkan kebijakan monopoli perdagangan garam sejak abad ke18, Sunur ikut terkena dampaknya. Untuk menjaga kestabilan harga, seringkali Kompeni memusnahkan produksi garam di Sunur dan sekitarnya yang dijalankan oleh regent setempat (De Stuers 1849, I: 13). Selama perang Paderi, Sunur juga menjadi basis pertahanan terdepan dalam melawan Kompeni. Francis (1847, IV:61-2), misalnya, menulis bahwa Sunur ia menulis Soemoer telah dijadikan semacam bumper oleh orang VII Koto untuk menahan serangan Belanda dari laut pada bulan November 1819.

Penduduk Sunur yang tinggal agak jauh dari pantai bekerja sebagai petani. Nagari ini mempunyai areal persawahan cukup luas. Karena kondisi geografisnya itu, penduduk Sunur bekerja sebagai petani, pedagang beras dan nelayan. Namun, seperti orang Minangkabau pada umumnya, banyak orang Sunur pergi merantau ke berbagai kota di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Belanda.

Karena Sunur adalah kawasan rantau barat Minangkabau, dulu di nagari ini ada raja kecil yang bernama Maharajo Nando. Seiring dengan pergantian zaman, raja-raja kecil yang berkuasa di Sunur juga berganti dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Seperti ditulis oleh Christine Dobbin (1983), eksistensi raja-raja kecil di pantai itu sangat tergantung kepada kepiawaian mereka membina hubungan dagang dengan para pendatang, semula dengan orang Aceh tapi kemudian dengan orang Eropa, seperti Belanda dan Inggris. Yang terakhir dari keturunan orang kaya di Sunur yang masih mempunyai kharisma adalah Urang Kayo Bandaro yang meninggal beberapa tahun lalu.

Penduduk Sunur mengaku nenek moyang mereka berasal dari Luhak Tanah Datar. Mereka menganut kelarasan Koto Piliang. Ada lima suku yang mendiami nagari ini, yaitu suku JambakKotoGuci,SikumbangPanyalai dan Tanjuang, masing-masing dengan datuknya.

Orang Sunur adalah penganut Islam aliran baru, dalam arti mereka berseberangan dengan tarekat Syattariyah yang dikembangkan di nagari tetangganya, Ulakan, dan nagari-nagari yang berkiblat kepadanya. Sebelumnya, Sunur lama berada di bawah otoritas Ulakan, seperti terefleksi dalam ungkapan adat setempat yang sampai kini masih terdengar dalam pasambahanSalareh Sunua-Kuraitaji, Pauah Kamba jo Bintuang Tinggi, aka bajampu di UlakanAliran pembaruan Islam bermula di Sunur di awal abad ke-19 yang dibawa oleh Syekh Daud, putra Sunur sendiri. (Mengenai Syekh Daud dan konfliknya dengan pengikut Islam aliran Ulakan, liha buku Suryadi, Syair Sunur (2004) dan buku Arnold Snackey, Sjair Soenoer (1888)). Mesjid Raya Sunur adalah salah satu mesjid yang cukup megah. Tapi mesjid itu rusak berat akibat gempa bulan September 2009. Dalam reruntuhan tembok menaranya ditemukan tatahan batu bertuliskan 1886, tampaknya tarikh selesainya mesjid ini dibuat dulunya.

Dulu Sunur dan Kuraitaji adalah satu nagari. Nagari induknya adalah Kuraitaji, karena penduduknya makin banyak, maka Sunur memisahkan diri dari Kuraitaji dan menjadi nagari sendiri. Menurut sebuah laporan dari tahun 1730 nagari Sunur dipimpin oleh 3 orang: orang Kaya Besar, Maharaja Nanda dan Sri Maharaja. Pada 1760 struktur kepemimpinan itu berubah: satu orang hoofdregent yang dibantu oleh 5 orang datuk (Van Basel dalam Kielstra 1887:521-22). Sangat mungkin pemimpinnya adalah Maharajo Nando. Hingga lebih dari dua dekade kemudian struktur kekuasaan seperti itu tampaknya tetap dipertahankan di Sunur yang membawahi lima dusun, seperti dicatat oleh Radermarcher (1781:34).

Pada tahun 1835 Maharajo Nando, beserta 18 orang pemimpin lainnya di kawasan rantau Pariaman menyerahkan negerinya kepada Belanda (Surat penyerahan itu kini tersimpan di Perpustakaan Univeristas Leiden berkode Or.5554.c). Pada tahun 1837 dilaporan penduduk Sunur berjumlah sekitar 800 jiwa. Mereka dipimpin oleh seorang pemuncak yang dibantu oleh enam orang penghulu (Francis 1839:91). Sekarang, hampir 200 tahun kemudian, penduduk Sunur berjumlah 5000 jiwa lebih, belum termasuk mereka yang berada di rantau.

Seperti kata pepatah Minangkabau, setiap nagari berayam gadang, yang dikenal sampai ke luar nagari itu. Dulu di Sunur dulu tokoh Anduang Ijuak, seorang guru agama dan pesilat tangguh yang mempunyai murid dari berbagai daerah. Silek Sunua adalah salah satu aliran silat yang terkenal di rantau barat Minangkabau. Di samping itu di Sunur dulunya hidup kesenian simarantanguluambek, dan gandang tasa. Juga pernah ada grup musik gambus yang dipimpin oleh seorang putranya, Buya Awe.

Putra Sunur lainnya yang menonjol adalah Syekh Daud (c.1790-an 1855?) yang mengarang dua syair yang terkenal di tahun 1830-an, yaitu Syair Mekah dan Madinah dan Syair Sunur (Suntingan teks SyairSunur sudah diterbitkan: lihat Suryadi 2004; Suntingan teks Syair Mekah dan Madinah oleh Suryadi dalam proses penerbitan oleh cole franaise dxtrme-Orient di Jakarta). Sebagaimana dicatat oleh B.J.O. Schrieke (1973), Syair Rukun Haji, begitu terkenal di dunia Melayu pada abad ke-19 dan telah dijadikan landasan tekstual oleh kaum Islam pembaharu untuk menyerang pengikut tarekat Syattariyah. Belakangan, antara 1860-an 1880-an, syair ini dicetak sampai enam kali di Singapura dan telah dijadikan sebagai buku manasik haji pertama dari dunia Melayu yang menjadi pegangan para calon jemaah haji Nusantara yang akan pergi naik haji ke Mekah.

suryadi-jalan-kuiliang-bilang-nagari-nagari-sunur-yang-pernah-dicatat-oleh-francois-valentijn
Salah satu salinan Syair Mekah dan Madinah karya Syekh Daud Sunur (Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda)
Pahlawan nasional dan mantan walikota Padang yang dibunuh Belanda, Bagindo Azizchan sebenarnya juga berasal dari Sunur, sebab ibunya yang benama Djamilah berasal dari Sunur, sedangkan ayahnya, Bagindo Montok, berasal dari Kuraitaji (lih: Mestika Zed [ed.] 2007:15-16).

suryadi-jalan-kuiliang-bilang-nagari-nagari-sunur-yang-pernah-dicatat-oleh-francois-valentijn1
Halaman pertama salah satu salinan Syair Sunur karya Syekh Daud Sunur (Koleksi Perpustakaan Kota Berlin, Jerman)
Satu lagi putra Sunur yang cukup dikenal di Sumatra Barat adalah budayawan senior Bagindo Fahmi, yang sekarang bermukim di Padang. Itulah antara lain orang-orang Sunur yang relatif menonjol dan dikenal di luar nagarinya.

Demikianlah sedikit gambaran catatan historis tentang nagari Sunur. Jika Anda turun dari Bandara Minangkabau dan menuju kota Pariaman melalui jalan sepanjang pantai, maka tak lama setelah menempuh pasar nagari Ulakan, Anda akan sampai di wilayah nagari Sunur. Saya sarankan Anda berhenti melepas lelah di pantai Pasir Sunur. Di sana ada beberapa rumah makan dimana Anda dapat menikmati nasi dengan gulai ikan laut yang segar. Tempat itu ramai dikunjungi orang setiap hari. Selepas makan, Anda dapat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.
sumber :
http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/822
Suryadi, dosen dan peneliti di Institute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University Belanda

Komentar

Postingan Populer